Demokrasi Sayur Asem

Seperti biasa, sejak jam setengah 5 pagi istriku sudah bangun menyiapkan segala keperluan anggota rumah untuk menghadapi kerasnya hari ini. Semuanya.. semua dia siapkan, bagi kami sekeluarga, kami selalu menumbuhkan keyakinan bahwa mengahadapi hari baru adalah sebuah tantangan yang luar biasa. Awalnya, pada suatu hari istri saya belanja, ketika itu dia harus menerima kenyataan bahwa harga bawang merah naik per kilogramnya. Kenaikan yang tidak terprediksi ini pada akhirnya mengacaukan rencana anggaran belanja istri hari itu. Hal inilah yang mendasari mengapa keluarga kami menyakini bahwa mengahadapi hari baru merupakan tantangan yang luar biasa, dan perlu disiapkan. Mulai sejak saat itu juga istri saya memproklamirkan bahwa semua harus dipersiapkan sebelum adzan subuh berkumandang.

Istri saya memang perempuan hebat, istri terhebat di seluruh galaksi bima sakti menurut saya. Jago masak sudah pasti… pada suatu hari dia masak sayur asem. Saking jagonya, sayur asem buatan istri saya asemnya mantab luar biasa (Jos.. pokoknya, uasem tenan). Ya…!, sayur asem !, tulisan ini akan fokus pada nama terakhir yang saya sebut itu.

Selain rasa asem, ada hal lain yang sangat menarik dari sayur asem buatan istri saya. Komponen – komponen dengan aneka macam dan ukuran berbeda saya temukan didalam racikan sayur asem, itu yang menarik. Mungkin Anda akan berfikir serta berpendapat bahwa sudah lazim isian sayur asem pasti beraneka ragam, ukuran irisan jagung dan irisan jipang sudah mesti berbeda. Jipang yang memiliki massa lebih kecil daripada jagung sudah mesti “kemampul” dibanding dengan jagung. Yang “kemampul” itu tadi pasti rasanya lebih hambar dari yang tidak “kemampul” karena sentuhan bumbu lebih merasuk pada yang tidak “kemampul”. Akan tetapi fokus saya adalah pada keanekaragaman dan perbedaan sayur asem itu tadi. (Semakin tidak paham ya?). Karena salah dua esensi dan komponen demokrasi adalah keanekaragaman dan perbedaan. Mari belajar demokrasi melalui sayur asem istri saya.

Jenis yang beraneka ragam, dan ukuran yang berbeda menyatu dalam sebuah harmoni membentuk keindahan penyajian sayur asem buatan istri saya. Dalam demokrasi, keanekaragaman jenis masyarakat serta sudut dan cara pandang yang berbeda membentuk sebuah sajian struktur masyarakat yang sedap dipandang. Rasa jagung yang lebih dirasuki bumbu daripada jipang, membuat jagung selalu menarik disantab terlebih dahulu. Demokrasi tidak berarti sama rata dan sama rasa secara tekstual, terutama dalam demokrasi pancasila, ada ukuran proporsional berdasar pertimbangan titik koordinat tertentu yang akhirnya membuat sebagian masyarakat mendapat perlakuan berbeda. Jagung saya pilih untuk disantab terlebih dahulu daripada jipang karena pertimbangan tertentu, akan menjadi masalah ketika jipang, jagung, kacang panjang, kacang, dan komponen lainnya saya perlakukan sama, saya santab bersamaan (luas mulut tidak mencukupi).

Rasa asem ?

Rasa asem yang tidak saya sukai, menjadi berbeda ketika saya melihat pengorbanan usaha istri saya. Saya mencoba menaklukkan ego saya untuk mendapatkan keharmonisan sarapan pagi saat itu. Penghormatan saya terhadap usaha keras istri saya adalah bentuk usaha untuk mendapatkan struktur sakinah, mawaddah sebuah jalinan rumah tangga. Sikap pengorbanan dan penaklukkan ego saya membuat istri saya belajar tentang apa arti pengorbanan. Belajar dari situ, istri saya selalu belajar bagaimana seandainya tidak ada yang dikorbankan. Dia belajar untuk mendapat kesempurnaan masakannya. Memang pada akhirnya kesempurnaan itu tidak akan didapat, tapi proses belajar menuju kesempurnaan itu yang membuat masakannya semakin hari semakin saya sukai. Proses dan siklus belajar itu yang terpenting. Begitu juga dengan demokrasi, terkadang asem, dan bahkan pahit rasanya. Tapi sekali lagi, pengorbanan dan siklus belajarlah yang pada akhirnya membuat kehidupan berbangsa, dan bernegara semakin harmonis, baldatun toyyibatun wa robun ghofur. Kalo asem, dan pahit yang dirasakan membuat Anda termotivasi mengganti yang manis, dan lezat melalui proses “instan” dengan menggantinya, ya konslet akhirnya teman- teman.

Jadi bagi Anda yang selalu teriak kofar-kafir, atau yang selalu gembar – gembor harus sama rata dan sama rasa secara tekstual, silahkan bertamu ke rumah saya. Rasakan masakan istri saya, dan mari belajar demokrasi untuk masyarakat yang lebih baik.

Iklan

Menang

Beberapa hari belakang ini saya disibukkan dengan sebuah riset yang gak penting blas (baca: ndak penting banget). Riset ini dimotori oleh keinginan pribadi saya sendiri, sebuah riset yang mencoba menjawab sebuah masalah tentang definisi ‘menang’.

Saya mencoba menjaring pendapat dari beberapa handai tolan, menanyakan tentang arti menang menurut mereka. Sebagian dari mereka memberikan jawaban  bahwa menang adalah tentang bisa mengalahkan. Ini jawaban menarik menurut  saya. Yang menarik adalah konstruksi berfikir yang mereka miliki sehingga menghasilkan jawaban itu tadi. Mereka mengkonstruksi definisi menang dengan kerangka berfikir konfrontatif. Cara berfikir ini lebih mencari lawan daripada sebuah padanan yang memang memiliki arah gerak yang lebih kompleks. (Coba anda cari sebuah kata dan temukan lawan katanya, pasti lebih mudah daripada ketika anda mencari padanan kata, yo ra?).

Konsekuensi logis cara berfikir konfrontatif akan mengarahkan ke arah berfikir konfrontatif-konfrontatif selanjutnya. Contoh, menang mereka maknai sebagai bisa mengalahkan, mengalahkan siapa?. Mengalahkan orang lain, orang lain siapa?. Ya orang lain yang bukan mereka. Orang lain bukan mereka itu siapa?. Ya yang berbeda dari mereka?. Siapa? Siapa?….Dan begitulah seterusnya.

Hal ini menarik, karena cara berfikir menentukan perilaku individu, dan perilaku individu menentukan struktur komunal. Maka struktur pemikiran sosial lingkungan tempat mereka berada pun tak jauh beda dengan apa yang mereka fikirkan tadi. Dan seandainya struktur sosial lingkungan ini semakin meluas maka struktur sosial masyarakat secara keseluruhan akan terpengaruh.

Nah sekarang persoalannya adalah tentang bagaiamana efek dari cara berfikir itu tadi. Karena setelah dirunut ternyata memberi dampak yang luas. Itu yang perlu dipikirkan ya tho?

Cak Nun pernah menulis, Indonesia adalah bagian dari desa saya. Jadi kalo lingkunganmu itu isinya itu cuma ribut terus, berarti pikiranmu itu sendiri yang perlu di-service.

Piye apik tho risetku ?

(mereka) Berfikir, (mereka) Menang

Siang ini, siang dimana rasa haus dan lapar semakin menjadi – menjadi. Melihat kecoa lewat saja, seperti melihat kurma yang berduyun – duyun sedang diangkat semut.

“Puasa kok ngeluh, puasa bilang lapar, haus. Berlebihan kami itu !”, begitu sahut temanku ketika memperhatikanku menulis tulisan ini.

Aku memang haus, aku memang lapar. Ya karena aku puasa, dan itu yang aku rasakan sekarang. Jujur karena aku tidak munafik maka ku akui apa yang aku rasakan. Soal apakah itu merupakan sebuah keluhan atau bukan, benar kata banyak orang bahwa terkadang orang menilai sesuatu dari apa yang sebagian kecil ia lihat dan ia rasakan.  Mereka menjadikan sebagian yang kecil itu untuk alat generalisir dan kemudian menjustifikasi penilaiannya. Subjektifitas, atau penafian sebuah objektifitas terjadi pada titik ini. Internalisasi dan aktualisasi semangat keilmuan tidak muncul pada titik itu. Disitulah apa yang disebut dengan bias kognitif muncul. Bias kognitif, salah satu topik yang menjadi fokus studiku 3 tahun belakangan ini. Tapi dalam tulisan kali ini aku tidak akan membahas lebih jauh tentang hal tersebut. Ada hal lain yang akan ku ceritakan.

Dalam beberapa tahun belakangan, ya kira-kira sekitar 10 tahun belakangan ini internet semakin dikenal di dunia ini. Era globalisasi yang sering menjadi tranding topic sampai saat ini di beberapa forum diskusi sebenarnya sudah dimulai saat itu, saat ketika internet mulai jamak dimanfaatkan. Integrasi informasi sejalan dengan berkembangnya pemanfatan media internet. Dunia semakin mendigital (bahasa yang tidak sesuai dengan KBBI ya?), integrasi arus informasi dari berbagai negara ditempatkan pada sebuah kotak yang teramat rapi, kotak digital. Siapa pemilik kotak itu ?

Sekitar 8 tahun kebelakang, beberapa fitur dari pemanfaatan internet diciptakan, diantaranya media sosial dan surat elektronik. Orang beramai – ramai menuliskan informasi pribadinya, dan bercengkrama dengan orang – orang lain melalui media tersebut. Surat elektronik, sebuah media yang sangat membantu umat manusia dalam berkirim pesan pribadi ke beberapa koleganya. Paperless, costless bisa diwujudkan. Kita tak perlu lagi pergi ke kantor pos, keluarin sepeda motor, dan beli bensin, semua bisa diselesaikan dengan sekali klik saja dari rumah kita tercinta. Kedua contoh tersebut adalah sebagian kecil contoh arus informasi yang terintegrasi menuju satu kotak, kotak digital. Siapa pemilik kotak itu ?

Beberapa orang pernah mengatakan dan menyakini bahwa di dunia ini yang abadi adalah kepentingan. Hubungan dan pertemanan antar Negara satu dengan Negara yang lainnya kemudian diletakkan dalam konteks tersebut, yaitu kepentingan. Pertemanan, dan persahabatan adalah sebuah kata-kata yang bersifat semu untuk memburamkan atau menyembunyikan kepentingan masing – masing pihak. Jadi secara lebih dalam, yang terjadi adalah kompetisi – kompetisi terselebung dari mereka yang berteman, dari mereka yang bersahabat.

Kompetisi akan melahirkan seorang jawara, dan seorang pemenang. Disisi yang lain kompetisi menciptakan para pecundang yang terus meratapi kekalahannya. Tidak ada istilah remis, atau seri. Seperti layaknya permainan catur dan sepakbola. Siapa yang jadi pemenang ?… Dalam sebuah kompetisi asimetris, seorang pemiliki informasilah yang akan memenangkan kompetisi ini. Logika matematis ‘game theory bersifat asimetris’ bisa dirujuk untuk menambah khazanah pengetahuan kita tentang pendapat tersebut.

Maka, berbahagialah mereka yang telah menyiapkan sebuah strategi untuk memenangkan kompetisi asimetris ini. Berbahagialah bagi mereka yang memiliki informasi. Maha cerdaslah bagi mereka yang telah menyiapkan kotak digital, sebuah tempat dimana arus informasi dikumpulkan. Hal ini merupakan sebuah strategi yang lahir dari akurasi prediksi melihat apa yang akan terjadi dikemudian hari. Dan akurasi prediksi itu hanya dimiliki oleh orang – orang yang selalu mengeksploitasi perangkat berfikirnya. Mungkin mereka sadar, dan tahu bahwa Sang Maha pencipta selalu selalu menagih..”afalaa tatafakkaruun”. Sekalipun mereka secara legal-formal bukan penganut keyakinan yang memiliki kitab yang menuliskan kata tersebut, mereka tetap dan selalu berfikir……

Magelang, 27 Juni 2016

BAYU

Negeri Salah Sangka

Pada suatu siang sutini sedang ngrumpi dengan sutinah.

“Ni.. tini kemarin si sutinem nggrenengi (nggunjing) kamu lho. Katanya kamu itu orang ndak baik”, begitu ujar sutinah.

“Ah masa’… ?”, jawab Sutini. Sebuah jawaban artifisial, normatif yang seringkali muncul. Walaupun sebenarnya syaraf – syaraf otak si penjawab sudah secara optimal bekerja dalam menyimpulkan. Tapi seringkali hasil kerja syaraf otak tadi tidak kemudian disalurkan dalam bentuk kata yang keluar dari mulut. Sehingga kemudian muncullah kalimat normatif, “Ah.. masa’ ……….?”.

Kemudian dikeesokan harinya, Sutini ketemu Sutinem, ada suatu momen yang berbeda, dan canggung dialami Sutini. Ada rasa males, dan dongkol ketika bertemu Sutinem. Mengapa demikian ?. Karena katanya Sutinah, yang Sutinah sendiri mendapat informasi berdasar kata temannya yang mengatakan bahwa Sutinem tidak suka Sutini

Karena ‘katanya’ hubungan pertemanan menjadi renggang.

“Katanya teman saya, pemerintah tidak pro rakyat. Aliran ekonominya neo liberal”, celoteh seorang disuatu warung kopi di suatu pojok kota Klaten. Akhirnya seluruh jama’ah warung kopi percaya bahwa pemerintah tidak pro rakyat, dan percaya bahwa neo liberalisme adalah sumber carut marut dari semua masalah yang terjadi.

Kembali lagi, karena ‘katanya’ rakyat tidak percaya pada pemerintah. Karena ‘katanya’ rasionalisme empiris dalam memodelkan masalah ekonomi dinafikan. Sumpah serapah terhadap neo liberalisme adalah sebuah jalan mengasyikkan sebagai legitimasi gagalnya akal dalam memahami masalah ekonomi.

Asimetri informasi dan ketidakpastian

Asimetri informasi adalah sebuah kondisi ketika sebuah informasi tidak menyebar secara merata dan menyeluruh, sehingga masing – masing pihak hanya memiliki informasi yang sepotong – sepotong. Informasi yang sepotong ini kemudian digunakan untuk memutuskan sebuah keputusan dalam menyelesaikan sebuah masalah. Pengambilan keputusan menjadi bias, maka hasilnya pun tidak seperti yang diharapkan oleh si pengambil. Semua karena… Asimetri informasi.

Ketidaklengkapan kepemilikan informasi menimbulkan ketidakpastian. Taruh contoh misal ketika kita mau beli telepon genggam, ketika kita tidak memiliki informasi tentang barang yang akan kita beli. Maka kita tidak bisa memastikan apakah itu telpon genggam yang bagus, atau tidak. Akhirnya kita menanggung ketidakpastian akan kondisi dari telpon genggam tersebut. Riset yang saya lakukan di tahun 2012 menyatakan bahwa ketidakpastian merupakan sebuah risiko dari asimetri informasi, yang berakibat pada konsekuensi biaya tambahan dalam sebuah transaksi. Kemunculan biaya ini mungkin merupakan sebuah financial punishment dari adanya ketidakpastian.

Dalam konteks kasus Sutini-Sutinah-Sutinem (3S), disitu ada asimetri informasi yang kemudian memunculkan ketidakpastian. Akhirnya muncul kata ‘katanya’ sebagai sebuah justifikasi miskinnya informasi yang dimiliki. Parahnya, keputusan diambil Sutini untuk mendongkoli Sutinem didasarkan pada ‘katanya’ teman Sutinah, yang teman Sutinah tersebut berkata kepada Sutinah juga didasarkan pada ‘katanya’ temannya teman Sutinah. Ada multiple asimetri informasi disitu, ketidakpastian yang dihasilkan juga sangat luar biasa. Tapi apa daya, Sutini sudah mengambil keputusan.

Retaknya persahabatan Sutini dan Sutinem merupakan bentuk lain dari punishment yang disebabkan oleh ketidakpastian.

Sama halnya dengan kasus di warung kopi, jama’ah warung kopi membuat keputusan berdasarkan ‘katanya’. Yang kalau ditelusur lebih dalam, ‘katanya’ itu muncul dari ‘katanya’ juga.

Ya Alloh… jangan biarkan Negeri ini dibangun atas dasar ‘katanya’. Karena kalo dibangun dari itu akan banyak prasangka, dan curiga. Negeri ini adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, bukan negeri yang salah sangka.

 *****

(Bayu, ditulis tanggal 06 Mei 2016 dalam sebuah perjalanan menuju sebuah kota kecil yang konon disana peradaban baru dimulai)

Kenapa Mesti Behavioral Dialectics ?

Mungkin ada sebagian umat manusia di bumi ini yang tidak mengenal Steve Jobs, dan atau mungkin hanya mengenal karyanya saja.

“Ah.. tak apa orang tak mengenalku, yang terpenting karyaku bisa dikenal dan memberikan manfaat pada orang”, begitu curhat Steve Jobs kepada Marx di surga sana.

Karl Marx, banyak orang mengenal karya dan orangnya tapi banyak orang pula yang salah sangka terhadap karya dan dirinya.

Kembali ke Steve Jobs. Tahun 1998 beliau di wawancarai oleh salah satu wartawan dari salah satu majalah bisnis ternama, Forbes. Ketika itu si wartawan menanyakan tentang inovasi kepada CEO Apple Inc. tersebut.

Jawab si Steve Jobs,”innovation is about people you have, how you’re led, and how much you get it”.

Southwest Airlines, salah satu maskapai kreatif dan inovatif dari Amerika Serikat. Salah seorang CEO nya, Gary Kelly, pernah membuat pernyataan yang membuat seluruh karyawannya bergetar. Penyataannya adalah sebagai berikut :

We’ve never had layoff. We’ve never had pay cut. And we’re going to strive mightly, especially this year [2009], to avoid them once again. I worry about that every day. And I don’t worry about much, but I worry about that

Dialektika

Dialektika adalah sebuah konsep berfikir yang diintrodusir oleh Hegel guna melengkapi logika sebagai sebuah konsep ketepatan berfikir. Tan Malaka, dalam sebuah karya monumentalnya, Madilog, menyatakan bahwa logika menjadi lemah ketika harus berhadapan dengan sebuah kasus yang berkaitan dengan gerak, seluk – beluk, dan waktu.

Taruh contoh kasus berkaitan dengan waktu, Tomas Alva Edison ketika duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) sering sekali disuruh keluar kelas oleh gurunya pada waktu itu. Alasannya adalah karena si Thomas kecil tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah (PR), Thomas kecil tak pernah mengerjakan PR karena dia tak paham dan tak bisa mengerjakan PR itu. Seiring berjalannya waktu, Thomas kecil tumbuh menjadi Thomas dewasa yang mampu menemukan lampu. Thomas dewasa tumbuh menjadi anak yang maha cerdas.

Contoh kasus diatas memberikan contoh bahwa logika tidak akan mampu memberikan jawaban yang tepat ketika ada pertanyaan, “Apakah Thomas Alva Edison itu anak pintar ?”. Kita tidak bisa mengatakan Thomas itu anak bodoh, begitu juga sebaliknya kita tak bisa mengatakan bahwa Thomas itu adalah anak pintar

Ketidakmampuan logika tersebut dapat dijawab dengan metoda dialektika, metoda mempertentangkan. Apa yang ditentangkan ?. Hegel mengintrodusir yang namanya Thesis, dan lawannya yaitu anti-Thesis. Pertentangan Thesis dan anti-Thesis akan memunculkan sintesis, atau jalan tengah.

Thesis dari kasus diatas adalah : Thomas adalah anak bodoh.

Anti-thesis : Thomas adalah anak yang pintar.

Sintesis          : 1) Kenapa Thomas bodoh ?

                        2) Kenapa Thomas pintar ?

Kedua jawaban pertanyaan diatas akan mengantarkan kita membentuk sebuah sintesis dan jawaban yang komprehensif dan tepat terhadap sebuah permasalahan.

Contoh kasus diatas memberikan gambaran bagaimana kekuatan dialektika sebagai sebuah konsepsi berfikir dalam memandang suatu masalah. Maka tidak berlebihan ketika Hegel mengatakan bahwa dengan jalan dialektika kita dapat menemukan kebenaran. Hal ini disepakati oleh banyak filsuf, taruh contoh filsuf empirisme seperti John Lock, David Hume, dan Tan Malaka. Yang membedakan Hegel dan Tan Malaka cs adalah Hegel percaya pada kekuatan Maha Ghaib (ide absolut) yang dialektika berproses, bersandar dan bersumber dari kekuatan tersebut. Sedangkan Tan Malaka, dalam berdialektika percaya pada yang terlihat, dan yang terasa (material), maka dari itu dialektika harus didasarkan pada apa yang terlihat dan terasa. Filsafat Tan Malaka cs ini dikenal dengan sebutan filsafat materialisme.

Kemudian mana yang lebih bagus ? Hegel atau Tan Malaka cs ?

Jawaban saya : “Mereka berdua bagus, saling melengkapi, dan yang paling penting mereka berdua menggunakan dialektika sebagai perangkat berfikir”.

Behavioral Dialectics

Komentar dari Steve Jobs, dan Gary Kelly dibagian pembuka tulisan ini tidak muncul begitu saja. Komentar tersebut muncul dari proses dialektika yang dilakukan oleh keduanya. Kita akan bahas satu – satu.

Awal tahun 90-an Apple dipimpin oleh Michael Spindler, suksesor dari CEO sebelumnya John Sculley. Kebijakan yang dijalankan oleh Spindler pun tak jauh beda dengan yang dilakukan oleh pendahulunya. Merumahkan karyawan ketika perusahaan tidak melampaui target, turnover (keluar-masuk) karyawan tinggi, banyak karyawan menjual ide brillian mereka keluar dengan harga mahal karena didalam perusahaan ide itu tidak dihargai secara semestinya. Steve Jobs resah melihat kondisi itu, akhirnya Steve Jobs mengambil alih perusahaan, dia masuk manajemen dan duduk sebagai seorang CEO. Setelah dipimpin Steve Jobs, Apple berevolusi menjadi sebuah perusahaan inovatif dewasa ini, bahkan ada yang menobatkan Apple Inc. sebagai the most innovative enterprises. Berangkat dari apa yang dia lihat, Steve Jobs membentuk tesis bahwa karyawan harus loyal, kreatif, dan innovative. Setelah merumuskan thesis, dia merumuskan anti-thesis karyawan tidak akan loyal, tidak akan kreatif, dan tidak akan inovatif kalau tidak dikelola dengan baik oleh perusahaan. Sintesisnya kemudian, perusahaan akan melakukan pengelolaan karyawan dengan baik, dengan memperhatikan apa yang diminta karyawan, tetapi kreatifitas, inovasi, dan loyalitas menjadi syarat wajib bagi karyawan Apple Inc.

Sedangkan bagaimana dengan Gary Kelly ? apa yang dilakukan beliau ini tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Steve. Kelly melihat bahwa karyawan resah mengenai keamanan kerja (job security), mereka takut kalau tiba – tiba ditengah jalan ada PHK. Tapi disatu sisi Kelly juga melihat bahwa dinamika persaingan bisnis membuat Southwest Airlines harus bekerja keras untuk mempertahankan dan menambah pangsa pasar mereka. Akhirnya keluarlah komentar Kelly seperti diatas tadi. Kelly berdialektika dengan perilaku karyawan dan perilaku perusahaan.

Dari contoh diatas, apa yang dilakukan oleh Steve Jobs dan Gary Kelly adalah contoh metoda dialektika dalam berfikir yang akhirnya menentukan mereka bertindak. Mereka mempertentangkan perilaku karyawan, dan perilaku perusahaan. Mereka berdialektika dengan perilaku, mereka melakukan yang namanya behavioral dialectics, dialektika yang disandar dan dasarkan pada perilaku.

Apakah kita akan mendidik orang untuk menjadi seorang Steve Jobs atau Gary Kelly ? Tidak.. !!! Tapi kita akan mendidik mereka untuk berfikir seperti bagaimana mereka berfikir, berdialektika dengan perilaku.

(Bayu, ditulis di Klaten 05 Mei 2016 dalam keadaan sumuk)

(Aku) Berhijrah Ideologi

“Judulmu berat banget Yu..!”, begitu kata teman ku sepintas dia melihat ku menulis judul tulisan ini.

Aku memang bukan tokoh hebat yang bisa disandingkan dengan tokoh – tokoh hebat lain seperti, Pak Insinyur Soekarto, Pak Moh Hatta, Pak Tan Malaka, Pak Gusdur, Pak SBY, atau Pak Jokowi. Tapi bukankah orang biasa seperti ku juga layak dan boleh beridelogi, atau bahkan berhijrah ideologi sekalipun. Pindah dari satu ideologi, ke ideologi yang lainnya. Dengan kata lain berideologi kan tidak dilarang, toh aku berideologi juga nggak kayak beliau – beliau yang hebat – hebat itu. Aku kan cukup sekedar meyakini bahwa ideologi ini, ideologi itu sesuai dengan apa yang ada di fikiranku.

“Keyakinan ? Kayak agama dong ?”, temanku menyahut apa yang ku tulisankan diatas.

Bagi sebagian orang, ideologi dianggap selayaknya agama. Tapi bagiku, ideologi berbeda dengan keyakinan, agama lebih bersifat transedental, bekerja dalam ranah dimensi spiritual manusia. Sedangkan ideologi bergerak dalam ranah dimensi yang berbeda. Dan itu harus dipisahkan, biar tidak ada kerancuan.

“Wah.. sekuleris kamu Yu ! Penganut sekulerisme kamu ya… !?”, dengan nada yang agak meninggi, temanku menimpali pendapatku diatas.

Bagiku memang, sekulerisme itu perlu dilakukan, bukan untuk memisah tapi untuk memilah. Beda makna antara memisah dan memilah.

“Haishh… Kacau kamu Yu Bayu.. Idemu tentang sekulerisme itu harus dibenahi, tinggalkan malah ! Kamu harus menghijrahkan pikiranmu itu, harus menghijrahkan ideologimu itu !”, kembali dengan nada tinggi teman ku coba memperingatiku.

***

Aku dulu lulusan salah satu pondok pesantren terbesar di Solo (Eh.. bukan lulusan, tepatnya jebolan. Karena ku hanya menempuh studi 3 tahun bukan 6 tahun, hehe.. ). Ketika di pondok bacaan sehari – hari yang ku baca adalah bacaan – bacaan yang mengisahkan perjuangan – perjuangan para pejuang Timur Tengah yang melawan kedzoliman, yang notabene memang untuk menemukan berbagai literatur tentang itu tidaklah sulit. Bacaan – bacaan ini kemudian membawaku kagum pada seorang sosok Hasan Al Bana dengan Ikhwanul Muslimin nya. Yang terlintas saat itu, “Wah jago banget, seandainya Aku juga bisa seperti itu”.

Seiring berjalannya waktu, 3 tahun sudah kuselesaikan studiku disana, aku putuskan untuk mengambil sekolah menengah umum diluar lingkungan pondok. Ketika itu, pemikiran Pak Hasan Al Bana masih bersemayam manis didalam otakku. Masih tetap ku yakini, bahwa ini adalah jalan yang cocok dengan pemikiranku. Tapi pada suatu waktu, semakin seringnya Aku bersinggunangan dengan berbagai macam orang. Pemikiran Pak Hasan Al Bana yang bersemayam manis dalam otakku mulai tergugah. Ketika itu Aku mencoba menggatuk – nggatukkan (hehe..) apa yang ada dalam fikiranku dengan realitas yang Aku jumpai. Hasilnya…

“Kok ya ndak gathuk – gathuk..”.

Kemudian sedikit – demi sedikit pemikiran Pak Hasan Al Bana yang bersemayam dalam otakku mulai ku bangunkan dan ku dorong keluar dari dalam otakku.

Masuk bangku kuliah, aku masuk fakultas ekonomi. Disitu Aku banyak bersinggungan dengan berbagai macam pemikiran. Tentang kapitalisme yang kemudian berevolusi menjadi neo-liberalisme. Tentang Marxisime, yang berevolusi menjadi komunisme, sosialisme, sampai sosialisme demokratik. Sedangkan pemikiranku….

Mencoba mengunyah –ngunyah pemikiran Marx, dan Lenin. Yang pada saat itu Ku yakini bahwa apa yang mereka tulis dalam manuskrip sesuai dan layak digunakan untuk membela kaum tertindas (Wuih…. bahasakuuu Jon.. Jon). Tapi.. lama kelamaan, seiring berjalannya waktu logika ku tak bisa lagi ku paksakan untuk semakin dalam mengunyah pemikiran Marx dan Lenin. Dengan kata lain, Ku dorong keluar pemikiran kedua tokoh besar tadi dari dalam otakku.

Walaupun telah ku dorong keluar, tapi aroma kental kekiri-kirian masih ada dalam otakku. Sehingga kemudian Aku berkenalan dengan Leon Trotzsky. Ide – ide tentang sosialisme demokratik menari – nari dalam pemikiranku, bersenggama dengan syaraf – syaraf otak ini . “Amboii… nikmat nian persenggemaan ini”, begitu ku menggambarkan keasyikan pemikiran ini berbalut aroma ide dari Leon Trotzsky.

Waktu akhirnya mengantarkanku ke sebuah kota yang terkenal dengan hingar – bingar keilmuannya, Yogyakarta. Disana Aku bersinggunan dengan lebih banyak orang, yang beberapa diiantaranya jujur sampai sekarang sangat ku kagumi. Persinggungan itu kembali menantang pemikiranku, “oh.. ternyata realitas mulai berdialektika dengan pemikiranku !”, begitu kataku dalam hati.

Pemikiran Pak Trotzsky mulai goyah dari zona nyaman dalam pemikiranku. “Kenikmatan itu hilang…semu…!”, logika realitas yang ku hadapi mengatakan demikian.

Optimisme, dan rasionalitas kapitalisme muncul kembali dalam otakku. “Mbah Adam Smith menggodaku kembali ternyata”, begitu gumamku dalam hati.

“Loh.. loh.. kapitalisme ? jangan.. jangann ! bahaya itu.. kapitalisme itu eksploitatif.. tidak bermoral…bla..bla.. !”, begitu kata temanku tiba – tiba.

“Ah.. moral ? semua ideologi itu baik, mereka hadir sebagai sebuah reaksi dari ketidakadilan dari masa sebelumnya. Kapitalisme, liberalisme, neo liberalisme, sosialisme, dan yang lainnya itu baik !!!”, begitu kakekku menyahut perkataan temanku tadi.

“Maksudnya mbah ?”, tanyaku

“Yang nggak baik dari ideologi itu ketika kamu mau mendominasi dan memaksakan ideologimu itu kepada orang lain. Apalagi paksaan itu disertai kekerasan dan tipu daya. Itu yang keji.. Itu yang salah”.

“Bukan ideologinya, tapi caramu berideologi itu yang penting”, begitu lanjut kakekku.

Menghormati orang yang (tidak) puasa

Beberapa waktu yang lalu, jagat media sosial menjadi hangat-hangat gimana gitu menanggapi kicauan twitter dari Pak Mentri Agama. Kicauan beliau tentang ajakan untuk menghormati warung yang buka saat bulan Ramadhan. 
Berbagai macam tanggapan datang, ada yang kontra, begitu juga sebaliknya ada yang pro dan bahkan memuji sikap inklusif Bapak Mentri kita ini.

“Alah… Pro dan kontra itu biasa tho Yu.. Bayuu.. Bagus itu malahan. Mekanisme dialektika justru akan muncul dari situ”, begitu kata temanku yang duduk disampingku sambil memperhatikan tulisanku.

Lepas dari pro dan kontra, begitu juga pendapat temanku tadi. Ada satu yang ku yakini dari pendapat Pak Mentri, yaitu tentang sikap menghormati. Aku teringat tentang sebuah artikel dari De Cremer dan B Mulder, entah ditulis tahun berapa riset itu aku lupa. Yang dalam penelitian menyatakan bahwa pada esensinya setiap manusia membutuhkan sikap untuk dihargai atau dihormati, makanya judul risetnya “passion to respect”. Sikap menghormati dan menghargai itu muncul ketika kita saling bersinggungan dengan individu yang lain. Sesuai dengan social exchange theory yang juga menyatakan demikian.
Dalam konteks pernyataan Pak Mentri, disitu dapat kita kelompokkan ada tiga kelompok individu. Pertama, individu yang berjualan makanan. Kedua, individu yang tidak berpuasa. Ketiga, individu yang berpuasa. Dan ketiga – tiganya ingin dihormarti, mengacu hasil riset dari De Cremer dan Mulder. Pertama, si pemilik warung makan ingin dihormati saat berjualan tanpa harus dirisaukan dengan aksi-aksi sweeping. Kedua, si individu yang tidak berpuasa ingin dihormati ketika dia jajan makanan di warung makan walaupun saat itu individu lain sedang berpuasa. Begitu juga dengan si individu yang berpuasa, karena dia berpuasa dia ingin dihormati juga karena saat ini dia sedang tidak minum dan tidak makan.
“La terus ketemune nang ngendi kuwi ? Kalo ndak ketemu titik temunya bisa bisa bentrok ketiga kelompok individu tadi”, tanya temanku yang satunya.

Kemudian temanku yang bercerita tentang dialektika tadi menjawab,”justru dengan pertentangan itu akan muncul sintesisnya. Muncul kebijakan jalan tengah yang bisa diterima tiga kelompok tadi”.

Melihat dan mendengarkan mereka berdua berdiskusi. Kuhentikan tulisanku. E… Tiba – tiba kakekku muncul terus menyahut,”kamu tahu ndak artinya puasa. Puasa itu artinya ngampet (menahan), termasuk ngampet untuk minta dihormati itu !”.

Ternyata tanpa ku sadari pak tuo (kakek) ku ini diam – diam memperhatikan diskusi dan tulisanku ini dari tadi.
Magelang, 26 Juni 2015

*Ditulis dalam keadaan kenyang (habis buka puasa soalnya, hehe)*